Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku
maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya"
Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman:
“Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan
peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu
(amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan
kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku
dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun
mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan
selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya,
menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya.
Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia
meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya.
Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan
untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai
kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya” (HR al-Bukhari 5/2384, no. 6137).
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang
yang menjadi wali Allah Ta’ala (kekasih Allah Ta’ala) yang benar, yaitu orang
yang selalu menetapi ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan
melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana
makna firman-Nya:
“Ketauhilah, sesungguhnya wali-wali
Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa
(kepada Allah). Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan
(dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” (QS Yuunus:
62-64).
Faidah Hadits
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
1.
Wali Allah adalah orang yang selalu mendekatkan
diri kepada-Nya dengan mengamalkan ketaatan, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi
larangan-Nya dan memperbanyak amal-amal sunnah, maka Allah membalasnya dengan
penjagaan dan pertolongan-Nya1.
2.
Perbedaan antara wali Allah dan wali Setan
(musuh Allah Ta’ala) adalah bahwa wali Allah Ta’ala selalu mengerjakan amal
shaleh yang mendekatkan diri kepada-Nya, sedangkan wali Setan selalu melakukan
perbuatan maksiat dan meninggalkan amal shaleh2. Maka jika ada seorang yang
mengaku sebagai wali padahal dia tidak memahami dan mengamalkan amal-amal
shaleh yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam, ketahuilah dia itu adalah wali setan dan bukan
wali Allah Ta’ala.
3.
Setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada
Allah adalah wali Allah Ta’ala, sebagaimana yang tersebut dalam ayat di atas,
akan tetapi derajat/tingkat kewalian manusia berbeda-beda sesuai dengan tingkat
keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya.
4.
Tingkat/derajat kewaliaan ada dua3:
·
Derajat as-Sabiqun al-Muqarrabun (orang-orang
yang sangat dekat kepada Allah Ta’ala dan selalu bersegera/berlomba dalam
kebaikan). Inilah tingkatan yang teringgi, yaitu orang-orang selalu mendekatkan
diri kepada-Nya dengan mengerjakan amal-amal shaleh yang wajib dan menjauhi
perbuatan-perbuatan yang haram, serta berupaya keras melakukan amal-amal sunnah
yang dianjurkan dalam Islam dan meninggalkan perkara-perkara yang makruh
(dibenci).
·
Derajat al-Muqtashidun Ashabul yamin (Golongan
kanan yang bersikap sederhana dalam beramal), yaitu orang-orang yang selalu
mendekatkan diri kepada-Nya dengan menunaikan dan menyempurnakan amal-amal
shaleh yang wajib serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang haram.
5.
Wali Allah Ta’ala akan selalu mendapatkan
bimbingan dan penjagaan Allah Ta’ala dalam pendengaran, penglihatan dan seluruh
perbuatan anggota badannya agar mereka selalu berada di atas keridhaan-Nya dan
jauh dari segala keburukan4.
6.
Demikian pula dia memiliki kedudukan istimewa di
sisi Allah Ta’ala, yang menjadikannya jika memohon maka Allah Ta’ala akan
mengabulkan permohonannya dan jika meminta perlindungan maka Allah Ta’ala akan
memberikan perlindungan kepadanya, sehingga dia akan menjadi orang yang selalu
dikabulkan doanya karena kemuliaannya di sisi Allah Ta’ala5.
Sumber: muslim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar